Showing posts with label luka. Show all posts
Showing posts with label luka. Show all posts

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

|1 comments
Berberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka antara lain usia, status dan asupan nutrisi, oksigenasi, dan diabetes. Penjelasannya ialah sebagai berikut:

Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.

Nutrisi
Pasien dengan status nutrisi kurang memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan. Pasien yang obesitas mengalami penundaan penyembuhan karena suplai darah (oksigenasi) jaringan adiposa tidak adekuat. Pasien obesitas juga memiliki risiko tinggi terkena infeksi, seroma, dan dehisensi.

Asupan Nutrisi
Penyembuhan luka memerlukan berbagai nutrien. Pada dasarnya nutrien yang berguna ialah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.
  • Protein. Deplesi protein dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Terjadi peningkatan kebutuhan akan protein saat terjadinya luka. Peningkatan kebutuhan tersebut diperlukan untuk proses inflamasi, imun, dan perkembangan jaringan granulasi. Protein utama yang disintesis selama fase penyembuhan luka adalah kolagen. Kekuatan kolagen menentukan kekuatan kulit luka seusai sembuh. Kekurangan intake protein prabedah, secara signifikan menunda penyembuhan luka pascabedah.
  • Karbohidrat. Selama fase hipermetabolik, kebutuhan akan karbohidrat meningkat. Segala aktifitas seluler dipengaruhi oleh ATP yang diperoleh dari glukosa (karbohidrat), sehingga penyediaan energi untuk respons inflamasi dapat berlangsung. Kekurangan karbohidrat dalam tubuh menyebabkan penghancuran protein untuk keperluan aktifitas seluler. Dengan kata lain, sedikitnya karbohidrat berpeluang membuat semakin sedikitnya protein.
  • Lemak. Lemak memiliki peran penting dalam struktur dan fungsi membran sel. Asam lemak esensial tidak bias disintesis oleh tubuh, sehingga harus didapatkan dari diet keseharian. Peran asam lemak esensial untuk penyembuhan luka masih belum begitu dimengerti, tetapi diketahui bahwa lemak berperan untuk sintesis sel baru.Kekurangan lemak tubuh dapat menunda penyembuhan luka. Omega-3 polyunsaturated fatty acids (PUFAs) diketahui lebih bermanfaat ketimbang omega-6 PUFAs. Omega-3s merupakan anti-inflamasi yang berguna untuk penyembuhan luka, tetapi pemakaiannya dapat menghambat pembekuan darah, sehingga dinilai merugikan.
  • Vitamin. Vitamin B kompleks merupakan kofaktor sejumlah fungsi metabolik termasuk penyembuhan luka. Selain vitamin B, yang berperan dalam penyembuhan luka ialah vitamin K. Vitamin K merupakan kofaktor enzim karboksilase yang mengubah residu protein berupa asam glutamat (glu) menjadi gamma-karboksiglutamat (gla). Gla disebut juga gla-protein. Gla protein dapat mengikat ion kalsium, yang mana kinerja ini merupakan langkah yang esensial untuk pembekuan darah. Ion kalsium berguna untuk mengaktifkan faktor pembekuan. Kekurangan vitamin K menyebabkan faktor pembekuan tidak aktif (darah tidak dapat menggumpal), sehingga menyebabkan perdarahan pada luka (operasi).
  • Mineral. Mineral yang diketahui bermanfaat untuk penyembuhan luka ialah besi dan seng. Besi berfungsi sebagai kofaktor pada sintesis kolagen, sehingga defisiensi besi membuat penyembuhan luka tertunda. Seng juga berperan dalam penyembuhan luka. Pembahasan mengenai seng ada pada sub-bab yang lain.
Oksigenasi
Oksigenasi jaringan menurun pada seorang penderita anemia ataupun gangguan pernapasan kronik (Penyakit paru obstruktif kronik, misalnya). Keadaan semacam ini membuat ketersediaan oksigen untuk penyembuhan luka sedikit.

Diabetes
Pada diabetesi, terjadi defisiensi sekresi insulin (DM tipe 2). Insulin ialah polipeptida yang berfungsi meningkatkan ambilan glukosa oleh sel. Apabila insulin sedikit, maka ambilan glukosa oleh sel menjadi sedikit, sehingga "energi" bagi sel untuk beregenerasi makin sedikit. Hal inilah yang menyebabkan luka pada diabetesi sukar sembuh.

Luka

|0 comments

Empat Jenis Penyebab Luka Bakar Tersering

|0 comments
Luka bakar adalah trauma pada kulit yang disebabkan oleh panas tinggi. Umumnya dapat disebabkan oleh:



Thermal (Suhu Panas)
Thermal adalah penyebab yang paling umum terjadinya luka bakar. Terdapat beberapa variasi cara panas dapat menimbulkan luka bakar, seperti kontak dengan kobaran api, kontak dengan fluida panas (liquid atau gas) atau kontak langsung dengan objek yang panas. Thermal dapat menyebabkan luka bakar dengan cara meningkatkan rata-rata pergerakan molekul-molekul di dalam tubuh sehingga saling bertabrakan satu sama lain. Akibatnya, terjadi kerusakan pada struktur selular. Tingkat keparahan luka bakar akibat thermal bergantung pada jumlah energi panas yang diterima kulit. Hal ini tergantung pada temperatur agen pentransfer panas (pada kontak langsung dengan objek panas) dan lamanya kontak. Scalding adalah tipe spesifik dari luka bakar yang disebabkan oleh terkena fluida panas ( liquid atau gas). Tingkat keseriusannya bergantung pada banyak hal.

Electrical (listrik)
Luka bakar karena listrik tidak terlalu umum terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat pun, luka bakar jenis ini hanya 3-5% dari total keseluruhan luka bakar. Dapat timbul dari sambaran petir atau aliran listrik. Luka bakar akibat arus listrik bergantung pada:
  • Voltage.Luka bakar akibat voltase dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu high voltage (>1000 volts) dan low voltage (<1000 volts). Pada luka bakar akibat tegangan rendah (umum di rumah tangga, 110 sampai 220 volt), efeknya hampir sama dengan luka bakar akibat thermal yang tidak mengakibatkan kerusakan berarti pada jaringan yang lebih dalam. Luka bakar akibat tegangan tinggi dapat merusak lapisan cutaneus. Tingkat keparahan luka terkadang tidak dapat dilihat dari ukuran luka bakar saja karena luka yang muncul pada permukaan kulit hanyalah merupakan hasil ‘keluar-masuk’ nya arus listrik. 
  • Amperage. Melihat ampere dapat menjadi indikator yang lebih baik tentang kerusakan jaringan  

Chemical (bahan kimia)
Bahan kimia yang dapat menimbulkan luka bakar antara lain sodium hidroksida (lye), perak nitrat, asam sulfat, asam nitrat dan lain-lain. Sebagian besar bahan kimia yang dapat menimbulkan luka bakar baik luka bakar ringan maupun berat berasal dari jenis asam dan basa kuat. Bahan-bahan tersebut dinamakan caustic. Perlu diingat bahwa berbagai bahan kimia tersebut akan tetap merusak jaringan sampai bahan-bahan tersebut dinetralkan oleh air. Tingkat keparahan luka pada berbagai jaringan tubuh bergantung pada sifat kimia bahan, konsentrasi bahan, mekanisme terjadinya, dan durasi kontak.
Bahan kimia akan mendenaturasi zat-zat biokimia penyusun sel seperti membran, dan lain-lain. Asam kuat akan menyebabkan koagulasi nekrosis presipitasi protein sedangkan basa kuat akan menyebabkan liquefaction necrosis.

Radiation (radiasi)
Luka bakar akibat radiasi jarang terjadi namun sangat merusak. Luka akibat radiasi baik yang dapat mengionkan maupun tidak dapat terjadi akibat material yang tidak tertangani dengan baik.