Showing posts with label diagnosis. Show all posts
Showing posts with label diagnosis. Show all posts

PENILAIAN AWAL KEDARURATAN PEDIATRI

|0 comments

PENILAIAN AWAL KEDARURATAN PEDIATRI
Elia Agus Triantoro

PENDAHULUAN
§  Bahaya kegawatan anak à cardiopulmonary arrest
§  Hipoksia dan hiperkarbi à respiratori arrest à bradikardi à cardiopulmonary arrest
§  Hal-hal yang menyebabkan cardiopulmonary arrest

MENENTUKAN ANAK SAKIT GAWAT:
§  PAT (pediatric assessment triangle) à penilaian cepat untuk menentukan stabilitas fisiologis anak
§  Penilaian ABCDE (primary survey)à pemeriksaan fisik

KEY POINT
§  Triangle adalah “quick look” dari keseluruhan keparahan dan urgensi treatment
§  Primary survey adalah evaluasi cepat dan bertahap dari fungsi cardiopulmonari dan neurologis untuk prioritas treatment
§  Setelah identifikasi masalah yang membahayakan nyawa, segera mulai resusitasi segera

PAT




A.    Airways and Appearance à penampilan anak secara keseluruhan merefleksikan adekuasi oksigenasi-ventilasi

Normal:
§  Tangis dan bicara normal
§  Merespon terhadap orangtua atau dengan stimulus seperti cahaya atau mainan
§  Tonus otot dan gerak ekstrimitas baik
Abnormal:
§  Tangis atau bicara abnormal atau absent
§  Penurunan respon terhadap orangtua atau stimulus lingkungan
§  Tonus otot lemah atau kaku

TILCS à tone, interactivity, consolability(anak bisa dihibur/dibujuk ato nggak), look/gaze(tatapan), speech/cry

Glasgow Coma Scale (GCS)

|0 comments
Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang dipakai untuk menentukan/menilai tingkat kesadaran pasien, mulai dari sadar sepenuhnya sampai keadaan koma. Teknik penilaian dengan ini terdiri dari tiga penilaian terhadap respon yang ditunjukkan oleh pasien setelah diberi stimulus tertentu, yakni respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal. Setiap penilaian mencakup poin-poin, di mana total poin tertinggi bernilai 15.


Jenis Pemeriksaan
Nilai
Respon buka mata (Eye Opening, E)
·      Respon spontan (tanpa stimulus/rangsang)
·      Respon terhadap suara (suruh buka mata)
·      Respon terhadap nyeri (dicubit)
·      Tida ada respon (meski dicubit)

4
3
2
1
Respon verbal (V)
·         Berorientasi baik
·         Berbicara mengacau (bingung)
·         Kata-kata tidak teratur (kata-kata jelas dengan substansi tidak jelas dan non-kalimat, misalnya, “aduh… bapak..”)
·         Suara tidak jelas (tanpa arti, mengerang)
·         Tidak ada suara

5
4
3

2
1
Respon motorik terbaik (M)
·      Ikut perintah
·      Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
·      Fleksi normal (menarik anggota yang dirangsang)
·      Fleksi abnormal (dekortikasi: tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
·      Ekstensi abnormal (deserebrasi: tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri)
·      Tidak ada (flasid)

6
5
4
3

2

1
Interpretasi atau hasil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…V…M…

Selanutnya nilai tiap-tiap pemeriksaan dijumlahkan, nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4V5M6 dan terendah adalah 3 yaitu E1V1M1. Biasanya, pasien dengan nilai GCS dibawah 5 ialah pasien emergensi yang sulit dipertahankan keselamatannya.  
Berdasarkan buku Advanced Trauma Life Support, GCS berguna untuk menentukan derajat trauma/cedera kepala (trauma capitis).

Derajat cedera kepala berdasarkan GCS:
GCS : 14-15 = CKR (cedera kepala ringan)
GCS : 9-13   = CKS  (cedera kepala sedang)
GCS : 3-8     = CKB (cedera kepala berat)

Lihat video tentang GCS:

Ketahui dengan Formula Ini, Apakah Anda Obesitas???

|1 comments
Semakin berkembangnya suatu negara, semakin berkaitan dengan era globalisasi. Sebagai contoh, Indonesia, sebagai negara yang sedang berkembang, semakin dipengaruhi oleh budaya luar, baik dalam segi kesenian, norma susila, peradaban, bahkan pola makan. Pola makan yang "kebarat-baratan" tentu saja berdampak pada kesehatan. Makan terlalu banyak dan tidak beraktifitas merupakan penyebab tersering kelebihan berat badan.


Salah satu dampak dari "poor diet" atau pola makan yang buruk adalah kelebihan berat badan yang biasa disebut dengan istilah obesitas. Obesitas, bukanlah sesuatu yang biasa, melainkan sesuatu yang harus mendapatkan perhatian khusus karena berbagai dampak yang dapat ditimbulkannya.

Berbagai penyakit dikaitkan dengan obesitas, seperti artritis, diabetes tipe II, berbagai penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung), dan beberapa jenis kanker. Oleh karena itu, obesitas bukanlah masalah yang sepeleh.

Untuk mengetahui apakah kita obesitas atau tidak, atau bahkan kurang nutrisi, kita dapat menggunakan formula untuk menghitung indeks massa tubuh, yaitu berat badan (dalam kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Sebagai contoh, berat badan kita 50 kg, tinggi badan kita 150 cm (1,5 meter). Berarti rumus indeks massa tubuh kita ialah 50/(1,5x1,5) = 22,22. Nah selanjutnya nilai itu kita interpretasikan sesuai tabel dibawah ini:


IMT (kg/m2)
Status Nutrisi
< 18,5
18,50-24,99
25.00 - 29.99
≥ 30,00
Kurang
Normal
Lebih
Obesitas
Sumber: WHO 1995, WHO 2000, dan WHO 2004.

Nilai 22,22 berada dalam rentang normal sesuai tabel di atas. Sekarang kita dapat mencoba menghitung indeks massa tubuh kita dengan memasukkan berat dan tinggi badan kita sendiri. Atau bila ingin mengetahuinya tanpa susah menghitung, silahkan download programnya di sini (Setelah selesai mendownload dan menginstall, ganti Imperial menjadi Metric agar satuan berat badan menjadi kilogram dan tinggi badan menjadi centimeter). Selamat mencoba!!!

Catatan: Untuk menjaga berat badan (supaya tidak berlebihan), konsepnya adalah setiap kalori yang kita makan harus seimbang dengan energi yang kita bakar (gunakan). Untuk menurunkan berat badan, kita harus menggunakan lebih banyak kalori dibanding yang kita makan. Strategi penurunan berat badan diantaranya:
  • Memilih makanan rendah lemak dan rendah kalori.
  • Makan dalam porsi yang kecil.
  • Perbanyak minum air putih, kurangi minum yang manis.
  • Berolahraga ringan secara teratur.
Terima Kasih Berkenan Membaca, Klik Banner Di Bawah Untuk Men-Donasi Blog Ini....

Beberapa Pengukuran Antropometri (Anthropomeric Measurements)

|0 comments


1.            The stature (overall height) = Basis-vertex (Ba-v) --> untuk menentukan tinggi tubuh kita
2.            Acromial height (Ba-a)
3.            Radial height (Ba-r) basis–radiale
4.            Styloid height (Ba-sty) basis–stylion
5.            Iliospinal height (Ba-is) basis-iliospinale
6.            Tibial height (Ba-ti) basis-tibiale
7.            Medial Malleolar height (Ba-sph) basis-sphyrion
8.            Upper arm length (a-r) acromion-radiale --> untuk menentukan panjang lengan atas kita
9.            Lower arm length (r-sty) radiale-stylion --> untuk menentukan panjang lengan bawah kita
10.        Thigh length (is-t) iliospinale-tibiale--> untuk menentukan panjang tulang paha kita
11.        Crural length (t- sph) tibiale-sphyrion
12.        Biacromial breadth, diameter biacromialis (a-a)
13.        Bicristal breadth, diameter bicriatalis (ic-ic) cristailiaca-cristailiaca
14.        Maximun head length (g-op) glabella- ophistrocranion --> untuk menentukan panjang lingkar kepala
15.        Maximal head breadth (eu-eu) --> untuk menentukan lebar maksimal kepala
16.        Bizygomatic breadth, diameter bizygomatica (zy-zy)
17.        Bigonial width, diameter bigonialis (go-go)

(Kontributor: Dr. Mutiara Budi Azhar)

Tiga Hal yang Harus Diketahui Mengenai Diabetes Terkontrol

|0 comments
Kebanyakan penderita diabetes (kencing manis) tidak mendengar apa yang telah diedukasikan oleh dokter mengenai hal penting apa saja yang berguna untuk pengontrolan diabetes mereka. Ada tiga hal penting yang harus diketahui dalam perawatan diabetes, yakni memonitor gula darah secara rutin, merencanakan mengkonsumsi makanan layak/tepat untuk diabetes, dan latihan (exercise). Penjelasan dari ketiganya ialah sebagai berikut:

Memonitor Gula Darah
Kadar gula darah harus dikontrol baik secara mandiri (dengan alat pengukur kadar gula darah) maupun datang ke tenaga medis. Kadar gula darah sebaiknya dikontrol secara teratur setiap satu atau dua minggu. Waspadai kadar gula darah di atas 140 mg/dl, hubungi dokter sesegera mungkin apabila kadar gula darah kita memang di atas angka itu.

Merencanakan Makanan yang Tepat
Pasien dengan diabetes pada dasarnya harus mencegah/mengurangi sedikit mungkin memakan-makanan yang berasa manis. Namun, untuk rekomendasi, benar-benar mencegah makanan manis adalah lebih baik. Selain itu, memakan/meminum apapun (terutama yang manis) dalam jumlah banyak apalagi dengan frekuensi sering juga tidak disarankan karena akan mengakibatkan kelebihan kadar gula darah yang dapat memicu terjadinya penyakit diabetes. Makanan yang tepat untuk penderita diabetes ialah nasi merah, sereal, nasi jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran, buah-buahan (yang terlalu manis tidak dianjurkan), daging, dan ikan. Semua jenis makanan itu harus "tepat jumlah" dalam artian tidak boleh berlebihan, secukupnya saja (atau sesuai rekomendasi dokter). Beras, baik dalam bentuk nasi maupun bubur juga harus dikurangi karena memiliki karbohidrat yang tinggi, yang dapat memicu peningkatan gula darah dalam tubuh. Mengenai minum, penderita diabetes sangat disarankan banyak minum air putih, tetapi sedikit minum susu (rendah lemak) dan yogurt.

Latihan (Olahraga)
Penderita diabetes, selain mempunyai riwayat memakan makanan berkadar gula tinggi, juga kerap memiliki riwayat jarang berolahraga/beraktivitas cukup untuk membakar timbunan energi berlebih yang bersemayam dalam tubuh. Oleh karena itu, beraktivitas fisik secara teratur seperti jalan santai ataupun jogging sangat disarankan untuk penderita diabetes. Olahraga yang berat tidak direkomendasikan apalagi untuk penderita diabetes yang telah mempunyai komplikasi penyakit lain.

Skor Alvarado (Untuk Keperluan Diagnosis Apendisitis Akut)

|0 comments
Skor Alvarado adalah suatu sistem pen-skor-an yang digunakan untuk menetapkan ada atau tidaknya diagnosis appendisitis akut (penyakit usus buntu). Skor Alvarado merupakan delapan komponen skor yang terdiri dari enam komponen klinik dan dua komponen laboratorium dengan total skor maksimal 10.

Dibawah adalah tabel skor Alvarado:


Tabel Skor Alvarado
Skor
Gejala Klinis
·         Nyeri abdominal pindah ke fossa iliaka kanan
·         Nafsu makan menurun
·         Mual dan atau muntah

1
1
1
Tanda Klinis
·         Nyeri lepas
·         Nyeri tekan fossa iliaka kanan
·         Demam (suhu > 37,2⁰ C)

1
2
1
Pemeriksaan Laboratoris
·         Leukositosis (leukosit > 10.000/ml)
·         Shift to the left  (neutrofil > 75%)

2
1

TOTAL

20

Interpretasi:
Skor 7-10 = Apendisitis akut
Skor 5-6 = Curiga apendisitis akut
Skor 1-4 = Bukan apendisitis akut

Empat Manuver Leopold (Pemeriksaan ANC Kehamilan)

|8 comments

 Salah satu pemeriksaan yang dilakukan saat Ante Natal Care adalah pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan ini terdiri dari 4 tindakan yang masing-masing dilakukan untuk mengetahui presentasi (kedudukan) bagian tubuh janin dalam uterus (rahim). Empat pemeriksaan Leopold tersebut adalah:

Leopold I
Bertujuan untuk menentukan usia kehamilan dan juga untuk mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri (bagian atas perut ibu).


Teknik pemeriksaan
  • Pemeriksa menghadap ke kepala pasien, gunakan ujung jari kedua tangan untuk meraba fundus.
 Mengetahui bagian janin apa yang terdapat di fundus uteri
  • Apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras,bundar dan melenting (seperti mudah digerakkan).
  • Apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lunak, kurang bundar, dan kurang melenting.
  • Fundus kosong apabila posisi janin melintang pada rahim.
Menentukan usia kehamilan
  • Pada usia kehamilan 12 minggu, fundus dapat teraba 1-2 jari di atas simpisis. 
  • Pada usia kehamilan 16 minggu, fundus dapat teraba di antara simpisis dan pusat.
  • Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah pusat. 
  • Pada usia kehamilan 24 minggu, fundus dapat teraba tepat di pusat.
  • Pada usia kehamilan 28 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di atas pusat.
  • Pada usia kehamilan 32 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara prosesus xipoideus dan pusat.
  • Pada usia kehamilan 36 minggu, fundus dapat teraba 3 jari di bawah prosesus xipoideus.
  • Pada usia kehamilan 40 minggu, fundus dapat teraba di pertengahan antara prosesus xipoideus dan pusat. (Lakukan konfirmasi dengan wawancara dengan pasien untuk membedakan dengan usia kehamilan 32 minggu).
Leopold II
Bertujuan untuk menentukan di mana letak punggung ataupun  kaki janin pada kedua sisi perut ibu.

Teknik pemeriksaan
  • menghadap ke kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi perut ibu, raba (palpasi) kedua bagian sisi perut ibu.
Menentukan di mana letak punggung ataupun  kaki janin pada kedua sisi perut ibu
  • bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan.
  • bagian-bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba kecil, bentuk/posisi tidak jelas dan menonjol, kemungkinan teraba gerakan kaki janin secara aktif maupun pasif.

Leopold III
Bertujuan untuk menentukan bagian janin apa (kepala atau bokong) yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta apakah bagian janin tersebut sudah menyentuh pintu atas panggul.

Teknik pemeriksaan
  • Pemeriksa hanya menggunakan satu tangan. (Lihat gambar!)
  • Bagian yang teraba, bisa kepala, bisa juga bokong (Lihat Leopold I!)
  • Cobalah apakah bagian yang teraba itu masih dapat digerakkan atau tidak. Apabila tidak dapat digoyangkan, maka janin sudah menyentuh pintu atas panggul.

Leopold IV
Bertujuan untuk mengkonfirmasi ulang bagian janin apa yang terdapat di bagian bawah perut ibu, serta untuk mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul.

Teknik pemeriksaan
  • pemeriksa menghadap kaki pasien
  • dengan kedua tangan ditentukan bagian janin apa (bokongkah atau kepalakah?) yang terletak di bagian bawah perut ibu.
Mengetahui seberapa jauh bagian bawah janin telah memasuki pintu atas panggul
  • Apabila konvergen (jari-jari kedua tangan bertemu), berarti baru sedikit janin memasuki pintu atas panggul. Apabila divergen (jarak antara kedua jari pemeriksa jauh), janin (kepala janin) telah banyak memasuki pintu atas panggul).

Translate:
One of the tests when Ante Natal Care is an examination of Leopold. This examination consists of 4 individual actions carried out to find a presentation (position) the body of the fetus in the uterus (womb). Four Leopold examination are:


Leopold I
Aiming to determine the gestational age and also to know what fetal part contained in the uterine fundus (the top of the mother's abdomen).


Technical inspection

* Examining the patient's head facing, use the tip of the fingers of both hands to palpate the fundus.

Knowing what the fetus contained in the fundus uteri

* If the fetal head palpable at the fundus, which will be felt is hard, round and bouncy (such as low effort).
* If the fetus is palpable in the posterior fundus, which will be felt is a soft, less rounded, and less bouncy.
* Fundus blank if the position of the fetus across the uterus.

Determine gestational age

* At 12 weeks gestation, the fundus can be palpated 1-2 fingers above simpisis.
* At 16 weeks gestation, the fundus can be palpated between simpisis and center.
* At 20 weeks gestation, the fundus could be felt 3 fingers below the center.
* At 24 weeks gestation, the fundus can be felt right in the center.
* At 28 weeks gestation, the fundus could be felt 3 fingers above the center.
* At 32 weeks gestation, the fundus can be palpated in the middle between the processus xipoideus and center.
* At 36 weeks gestation, the fundus could be felt 3 fingers below the processus xipoideus.
* At 40 weeks gestation, the fundus can be palpated in the middle between the processus xipoideus and center. (Do confirmation by interviews with patients to distinguish with gestational age 32 weeks).

Leopold II
Aiming to determine where the fetal back or legs on both sides of the mother's abdomen.

Technical inspection

* Facing the patient's head, put both hands on both sides of the mother's abdomen, touch (palpation) the two parts of the mother's abdomen.

Determine where the fetal back or leg on either side of the mother's abdomen

* The back will be felt clear, flat, convex, rigid / not be moved.
* Small parts (hands and feet) will be felt small, the shape / position is clear and prominent, palpable possibility of fetal leg movements actively or passively.


Leopold III
Aiming to determine what fetal part (head or buttocks) that sits at the bottom of the mother's abdomen, and whether the fetus has already touched the door of the pelvis.

Technical inspection

* Examining only using one hand. (See picture!)
* Part of palpable, can head, can also butt (See Leopold I!)
* Try whether a palpable part of it still can be moved or not. If that does not shaken, then the fetus has touched the door of the pelvis.


Leopold IV
Aiming to reconfirm what fetal part is at the bottom of the mother's abdomen, and to know how far the bottom of the fetuses had entered the door of the pelvis.

Technical inspection

* Examiner facing the patient's foot
* With two hands determined what parts of the fetus (bokongkah or kepalakah?) Located at the bottom of the mother's abdomen.

Knowing how far the bottom of the fetuses had entered the door of the pelvis

* If the convergent (both fingers meet the hand), meaning the fetus entered the door just slightly above the pelvis. If the divergent (the distance between the two examiners finger distance), fetal (fetal head) has a lot in the door of the pelvis).




Terima Kasih Berkenan Membaca, Klik Banner Di Bawah Untuk Men-Donasi Blog Ini....

Pemeriksaan Fisik Umum

|0 comments
Bagi seorang dokter, pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan yang harus dilakukan karena bersifat amat krusial. Tanpa dilakukannya pemeriksaan fisik terhadap pasien, kemungkinan untuk mendapatkan diagnosis/diagnosis banding dari keluhan-keluhan yang dialami pasien sangat kecil.

Namun, di era yang sedemikian canggih ini, tidak sedikit dokter yang mengandalkan pemeriksaan penunjang tanpa/dengan seadanya melakukan pemeriksaan fisik. Padahal pemeriksaan fisiklah yang merupakan salah satu kekuatan dari seorang dokter selain anamnesis pasien. Pemeriksaan penunjang memang membantu untuk beberapa kasus, tetapi tidak seharusnya dijadikan prioritas selama pemeriksaan fisik dan anamnesis mahir dilakukan oleh seorang dokter.

Adapun pemeriksaan fisik (umum) yang biasa dilakukan seorang dokter ialah sebagai berikut:

  • Lihat: apakah pasien tampak sakit berat? Adakah anemia (pucat)? Adakah sianosis (biru), ikterus (kuning)? Apakah pasien dehidrasi? Tampak kurang gizi? Tanda-tanda penyakit lain (misalnya penyakit endokrin)?
  • Pengamatan tanda vital: Denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh, laju pernapasan.
  • Tangan: Jari tabuh, perdarahan splinter, eritema palmaris.
  • Denyut nadi radialis: Kecepatan, irama, volume, sifat.
  • Mulut dan lidah: Sianosis, membran mukosa kering, pigmentasi.
  • Leher: Denyut nadi karotis, JVP, Struma, kelenjar getah bening.
  • Dada: Jaringan parut, gerak dada, laju pernapasan, posisi trakea, ekspansi dada, denyut apeks, Heave/thrill, auskultasi jantung, perkusi/auskultasi dada bagian depan, periksa payudara/aksila, Duduk tegak: edema sakral, tulang belakang, perkusi/auskultasi dada bagian belakang.
  • Abdomen: Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, periksa: hati, limpa, ginjal, aorta, hernia, kelenjar getah bening.

Pemeriksaan Status Mental

|0 comments
Artikel mengenai status mental mini telah dijelaskan pada artikel yang telah lalu. Maka dari itu, dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai pemeriksaan status mental yang lebih umum dan luas.

Pada dasarnya, pemeriksaan status mental telah dimulai sejak tatapan awal seorang dokter kepada pasiennya. Kemudian pemeriksaan lanjutan segera dilakukan ketika dokter bercakap dengan pasien. Dengan hal itu, dokter telah mampu meresapi dan menilai sedikit karakter pasien melalui ucapan dan tingkah laku pasien itu. Adapun komponen-komponen yang dinilai seorang dokter pada pasiennya dari awal tatapan hingga wawancara/anamnesis, yaitu:

Pertama. Penampilan, tingkah laku, dan cara bicara: dokter melihat pemeliharaan dan perawatan diri pasien dari segi fisik pasien. Termasuk cara berpakaian pasien, rapi, sambil lalu, minim, atau acak-acakan. Sedikit banyak dari cara berpakaian dan berpenampilan ini dapat didapatkan pribadi pasien tersebut secara umum. Dokter juga melihat ekspresi wajah pasien (ramah, khawatir, marah, ekspresi menggoda/histeris, depresi, ataupun ekspresi kosong seperti orang parkinson). Apakah pasien menggigit-gigit kuku jari tangan, apakah telapak tangannya kapalan, apakah ia mengepalkan tangan? Ini juga dinilai dokter. Intinya semua gerak-gerik pasien dapat memiliki arti khusus secara klinis. Selain itu dokter juga menilai cara bicara pasien, mulai dari kecepatan, irama, intonasi, kuatnya suara, sampai tingkat kepentingan isi pembicaraan. Dari cara bicara ini beberapa gangguan dapat diketahui, misalnya mania (bicara cepat, berbobot), depresi (bicara lambat dan monoton), skizofrenia (banyak ungkapan/neologisme), dll.

Kedua. Keadaan emosi dan reaksi: Dokter memperhatikan kesesuaian antara pembicaraan dan emosi yang ditunjukkan, melihat apakah tingkah laku pasien sesuai dengan emosi, serta apakah sikap keseluruhan pasien konsisten. Misalnya, pasien yang sedih, kemungkinan tingkah lakunya tidak agresif, malu, ataupun pendiam.

Ketiga. Masalah khusus: Dokter juga menanyakan masalah khusus pasien seperti masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, ataupun masalah lain yang dialami. Semua yang diutarakan pasien merupakan gambaran tentang permasalahan yang tengah dihadapi pasien; semuanya wajib dirahasiakan oleh dokter.

Keempat. Daya ingat serta orientasi: Biasanya, dokter menguji ingatan pasien dari ingatan pasien tentang masalah-masalah/peristiwa yang baru terjadi atau yang telah berlalu (sudah sangat lama). Dokter juga mempertimbangkan kemasuk-akalan kisah yang diutarakan pasien. Sedangkan mengenai orientasi pasien, dokter bertanya tentang tanggal, bulan, tahun, tempat, nama, dll.

Kelima. Kemampuan intelektual umum: Misalnya, dokter mengajukan pertanyaan sambil berguyon (atau sambil serius) mengenai berita-berita teraktual di televisi, atau bisa juga tentang gosip, dsb. Pasien juga diberi soal menghitung, misalnya kurangi 100 dengan 7 sampai 5 kali, dan seterusnya.

Keenam. Pemahaman dan pengertian: Misalnya, seberapa mengerti pasien pada dirinya sendiri, seperti tentang penyakit yang sedang dialaminya atau tentang bagaimana pasien melukiskan dirinya sendiri melalui ucapan atau tulisan.

Ketujuh. Pertimbangan dan abstraksi: Pertimbangan dan abstraksi melibatkan serentetan proses otak, yaitu meregistrasi, mengingat kembali, menganalisis, membandingkan, dan mengambil keputusan, misalnya tentang alasan seorang pasien datang ke dokter.

Pemahaman mengenai pemeriksaan status mental harus ada pada diri seorang dokter. Proses memahami pemeriksaan ini ialah berasal dari pengalaman selama menghadapi banyak pasien, tidak dapat diperoleh secara instan dari perkuliahan atau buku-buku.